Usai Menang Piala Dunia 2018 Prancis Rusuh ! Ada Bau Rasis (Islam Phobia)



FIFA sebagai badan induk sepakbola dunia sudah lama melarang dan mengutuk rasisme. Semua kompetisi, baik pemain, offocial, maupun pelatih dalam olah raga ini di larang keras melakukannya.

Tapi meski pun begitu untuk menghindarkan adanya aksi pejoratif ini tetap tak mudah. Kerapkali rasisme di lapangan hijau masih terjadi. Yang paling sering terkena adalah pemain asal berkulit berwarna atau keturunan Afrika.

Tindakan sadis ini sering terjadi, meski tidak berbentuk teriakan makian verbal. Misalnya ada yangf mengolok dengan melemparkan pisang atau menirukan tingkah layaknya monyet pada sekolompok pemain yang bukan kulit putih.

Dan aksi rasisme ternyata juga terjadi di tengah pesta kemenangan tim Prancis sebagai juara dunia sepakbola 2018. Tim mereka yang berasal dari campuran etnis ini menghempaskan tim Kroasia yang berasal dari satu etnis pribumi yang sama: Croatian.

Kegetiran ini terekam pada jeritan hati sahabat jurnalis saya, Dini Kusmana Massabuau. Alumni Universitas Trisakti ini sudah dua puluh tahun tingga di Prancis. Isteri dari seorang lelaku yang berasal dari orang asli Prancis dan dipanggil sayang 'Akang Bule', mengalaminya langsung.

Mbak Dini pun sudah punya keluarga. Anak sulungnya sudah masuk universitas di Prancis. Dia kini memakai jilbab. Dari foto di media sosial, di kampung asal keluarganya yang berada di tanah Pasundan, terlihat ada sebuah pesantren yang disebutnya modal akhirat. Pesantren ini dikelola keluarga Mbak Dini.

Awalnya, bagi saya yang terkait tulisan Mbak Dini di media sosial, sebenarnya biasa saja. Tapi tiba-tiba ada yang terasa menyentak dan mengagetkan ketia dia bercerita soal suasana pesta kemenangan tim Prancis di yang terjadi di sekitar rumahnya di Montpellier, Prancis, itu.

Dalam tulisannya dia menumpahkan kegetiran hatinya: Tolong deh jangan main hakim dan menyamaratakan warna kulit. Lihat baik-baik ya, yang melakukan perusakan kemarin tidak semua orang Maghr├ębin atau orang keturunan Arab (bahkan ada menyebutnya sebagai onta hingga teroris)

Eh ben... Yang kulit putih, asli Perancis, juga banyak yang (bikin rusuh,red). Cari informasi yang lengkap, jangan asal comot.

Mereka pada mabuk, kalap.

Lupa ya? Yang buat gol itu salah satunya orang kulit berwarna, Muslim taat. Tiap tahun umrah. Bahkan sebelum piala dunia dia umrah lagi tuh.

Dan para pengamat bola memujinya dia itu Paul Pogba! Yes Pogba. Belum yang pemain lainnya, yakni Fekir. Atau masih mau disebut lainnya lagi? Nggak perlu kan. (lihat video Pogba menjalankan umrah di bagian khir tulisan serias tulisan kedua ini).

OK Perancis rugi. Jelas lah rugi. Terjadi kerusakan banyak. Orang-orang bodoh dan tidak bertanggung jawab itu berpesta sampai mabuk dan kalap. Mungkin mereka sebenarnya para kriminal yang cari kesempatan dalam kesempitan.

Tapi stop, menyebar berita bahwa itu hanya kelakuan atas satu ras. Stop rasis !

Saya juga pendatang dengan warna kulit berbeda, dan seorang Muslim.




Kerusuhan di Prancis saat dinyatakan menang sebagai juara world Cup 2018 di Rusia. (f0to: Voice of Europa).


Mbak Dini menyebut keributan berbau rasial ini saat Prancis menjadi juara dunia sepakbola ini terjadi juga di beberapa kota)."Banyak mas kerusuhan pada pesta juara dunia ada beberapa tempat seperti Paris, Lyon, dan Marseille,'' tambahnya membalas pertanyaan saya.




Kerusuhan berbau rasial yang terjadi di Lyon usai Prancis menang piala dunia 2018.

Dan pada menjelang tengah malam waktu Indonesia, sebuah tambahan informasi dari Mbak Dini datang melalui percakapan di media sosial kembali. Dia meminta maaf atas terputusnya informasi yang dicoba melalui percakapan tertulus maupun telepon karena pergi ke dokter gigi. Dia menceritakan tambahan informasi itu.

Katanya: "Pada intinya sih mas, ada kerusakan yang dibuat para oknum sekelompok orang tidak bertanggung jawab itu. Tapi media Prancis sendiri tidak ada menyebutkan siapa, apalagi sampai bilang yang merusak itu oramg imigran, apalagi bilang pelaku nya itu orag Maroko dan sebagainya. Nah di media sosial orang-orang indonesia yang tinggal di Prancis malah mereka cela. Katanya, dasar onta-lah. dasar imigran, hingga dasar ini itu pokoknya. Bahlan sampai dibilang onta teroris."

Lanjutnya:"Gitu mah ini yang buat saya marah. Wong orang Perancis sendiri dan media nggak bilang soal ras kok yang Indonesia sesama pendatang malah bilang rasis. Kayaknya kalau mas cari di Google soal kerusakan di Paris sehabis Piala Dunia langsung dapat deh banyak. Media Prancis sangat hati-hati kok memberitakan masalah ini."

Nah, keluhan getir Mbak Dini sebelumnya mendapat komentar dari sahabatnya yang juga tinggal di Prancis. Dia malah menceritakan bahwa rasisme terjadi di negara itu.

Kata komen itu sepert ini: Kayak aku (juga) mbak. Waktu anter sekolah anakku sama Laura, layaknya perilaku biasa seorang anak-anak, si kakak pamer dong sama temennya: "ini loh adikku bla bla." Temannnya yang satu bilang "cantiknya bla bla". Eh teman yang satu bilang "masa adikmu dia gak punya rambut pirang sama kayak kamu.''

Aku langsung kaget hahahahahha (dasar rasis) kataku dalam hati. Namun kakaknya langsung bilang:"kamu iri Karena tidak punya adik cantik seperti laura."




Polisi anti huru-hara Pancis mengamankan para supoter dan orang yang terindikasi mabuk usai Prancis memenangkan Piada Dunia 2018.

Tapi menjadi Muslim dan berkulit berwarna di Eropa tak selalu getir kisahnya. Pengalaman pribadi malah mengasyikan karena tiba-tiba saja banyak orang yang menolong ketika tersesat atau kebingungan. Kita tahu kaum imigran asal Afrika dan Asia inilah yang rata-rata beragama Islam yang ringan hati datang.

Di sebuah bandara di Italia misalnya, saya pernah ditolong seseorang ketika kebingungan mencari tempat penukaran uang. Awalnya dia ragu menyapa saya yang hilir mudik mencari 'money changer'. Namun ketika tanya asal negara dan kemudian setelah sesaat bercakap-cakap tahu agama saya dia kontan berubah sangat ramah. Saya makin kaget ada bule bicara ahlan wa sahlan dan mengucap asalamualaikum.

'Mari brother ikut saya. Aku tunjukan di mana tempat tukar uang itu. Tuh ada di sana,'' katanya. Setelah sampai di gerai itu, dia menepuk bahu ucapkan selamat tinggal yang diakhiri dengan salam.

Di Venizia pun begitu. Kami tiba-tiba dipanggil seorang berwajah mancung dan berkulit kecoklatan ala Asia. Dia menunggui kios yang berjualan aneka barang cindera mata.''Hey Malaysia ke mari. Ini murah-murah,'' kata menyebut saya sebagai orang Malaysia.

Dan setelah ngobrol dengan membeli beberapa souvenir pria itu mengaku berasal dari Pakistan dan pernah tinggal beberapa lama di Kuala Lumpur. Dia kemudian terkejut sekaligus tertawa ketika saya sebut berasal dari Jakarta.''Ya sorry. Pokoknya kamu saudara saya,'' sembari memeluk saya. Dia pun membantu saya menukar uang kecil untuk ke toliet yang harganya 3 Uero atau sekitar Rp 50.000 itu.

Di Ljubljana pun begitu. Ketika saya bingung mencari restoran ada seorang lelaki bule membawa kami ke sebuah restoran. Letaknya di dekat sungai yang tertata rapi. Katanya itu restoran milik orang Turki yang halal. Saya pun lega.

Di sana kami bisa lahap makan ayam goreng dan nasi yang sangat kami rindukan. Pemiliknya menyiapkan kami tempat shalat dadakan di beranda. Kami shalat meski jadi tontonan dan sibuk di videokan pengunjung restoran yang kebanyakan berwajah kaukasian. Seorang gadis dengan rokok mengepul di tangan dan berambut blonde menonton shalat kami sembari duduk beberapa jengkal dari tempat shalat kami.Saya merasa jadi artis dadakan.
Begitu juga kala di Kroasia. Di sebuah pusat kota kami makan sebuah restoran. Tak di sangka kami menemukan sebuah restoran Turki. Pengelolanya orang asli yang mengaku berdarah Bosnia. Si isterinya mengaku masih bisa menghapal Alfatihah meski terbata-bata. Peningalan rejim komunis Yugoslavia yang anti agama itu ternyata tak bisa menghapus seluruh kenangan masa kecil dirinya.





Muslimah Eropa bermain sepakbola. (Foto: Travel Guide).



Tak hanya itu, seorang teman kemudian bercerita sewaktu ke London. Di bandara tiba-tiba ada orang yang membantunya ketika kebingungan mencari bus. Seorang pria asal India menolongnya gara-gara dirinya tanya asal-usul dirinya.''Dari Indonesia ya. Anda Muslim,'' tanyanya.

Nah, tak hanya membantu menaikan barang, temannya yang menjadi yang mengurus bus, memberikan tiket gratis bus, dan memberikan sebungkus makanan ala India.''Hala-hala. Ini untuk pengganjal perut agar bisa ke London.''Saya balas kebaikan hatinya dengan beberapa batang rokok kretek Dji Samsoe premium,'' ujarnya.

Begitu juga saat di Syiria dan Irak sebelum porak-poranda oleh perrang. di sebuah monumen tiba-tiba ada beberapa orang yang mengajak 'reriungan' makan bersama di atas tikar. Di Beirut, kami dibawa kelilig kota oleh warga lokal.''Ayo ikut. Aku dulu pernah ke Garut,'' katanya. Dengan tertawa-tawa bahagia kami keliling kota yang disebut Parisnya Timur Tengah dan dipenuhi wanita cantik itu.

Jadi kalau anda menemukan phobia terhadap Islam di Eropa, seperti yang dirasakan Mbak Dini, sikapi dengan santai saja. Gak usah takut berlebihan, meski prihatin. Bertebaran orang seperti Pogba,Fekir di Timnas Prancis (di Manchester United ada Muhammad Sallah), atau berbagai orang lainnya bertebaran di sekujur Eropa.

Di situ menjadi betul pada kenyataannya: Bila nasionalisme, ideologi, dan etnik menjadi penghalang, agamalah yang akan menyatukannya. Belajarlah pada perpecahan Sovyet dan Yugoslavia ketika agama berusaha dimatikan. Mengutip Kuntowidjoyo: Agama itu bagaikan air akan terus mengalir tak terbendung serta mencari jalannya sendiri. Semakin ditekan akan semakin luat. Layaknya bola pingpong: semakn keras dipukul ke dinding semakin keras memantul balik.

Ini berlaku tak hanya Islam, juga pada agama yang lain. Lihat langsung saja pada Kroasia pada agama Katolik Ortodoks atau Prancis dan Inggris (Eropa) pada agama Islam. Di sana saya lihat langsung fakta itu berbicara.

Okey Brother...?

Terimakasih telah membaca tulisan ini, Judul asli tulisan dalam republika ini adalah "Phobia Islam, Rasisme: Rusuh Prancis Usai Menang Piala Dunia" ditulis Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.