Revolusi Belum Selesai, Ini Komentar Djarot Pertama Kali di Depan Publik Pascapilkada



TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tampil pertama kali di hadapan publik, Cagub Sumut Djarot Saiful Hidayat menggaungkan ungkapan Bung Karno di hadapan para relawan, kader, dan simpatisan.


Pada acara silaturahmi dan doa bersama dengan para relawan yang diselenggarakan di Rumah Relawan Jalan Cipto, Djarot mengungkapkan walaupun pemilu sudah selesai namun proses terus berjalan.

"Ingat revolusi belum selesai, ketika masih ada rakyat yang tinggal di gubuk reot, masih ada ketidakadilan di sana sini, maka revolusi belum selesai," ungkapnya, Minggu (8/7/2018).

Revolusi, kata Djarot yakni revolusi mental yang harus digalakkan di tengah rakyat. Menurutnya, hal tersebut patut diperjuangkan di 2019 nanti, menjadi program andalan Joko Widodo ke depan.

"Kita akan perjuangkan Jokowi untuk dua periode, kemenangan nanti bukan untuk kita saja tapi seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Pria kelahiran Magelang 6 Juli 1962 itu mengajak segenap relawan mengawal Sumut ke depan terutama pembangunannya.

"Kita patut bangga, keta berjuang atas dasar nilai kebenaran,kita berjuang atas dasar Bhineka Tunggal Ika. Saya dan Sihar bersaudara, dia sudah seperti adik saya," ucap Djarot sambil merangkul pendampingnya tersebut.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para relawan, kader dan simpatisan yang telah berdiri bak batu karang melawan ombak yang menghampar-hampar selama proses pilgub kemarin.




"Saya juga prihatin ustaz-ustaz yang mendukung saya tidak diizinkan berkhutbah. Ketika saya bertanya kepada beliau (para ustaz) ternyata beliau-beliau tidak kecewa serta menyesal. Islam sungguhlah Rahmatan Lilalamin," ungkapnya.

Tak sampai di situ, Djarot juga mengungkapkan hakikat kekuasaan.

"Kekuasaan bukanlah tujuan, kekuasaan adalah sarana, jalan yang akan kita gunakan untuk memberantas kemiskinan, kebodohan,korupsi serta narkoba mari kita kawal orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk kekuasaan," ucapnya.


Jabatan bagi Djarot hakikatnya adalah ujian, dan ajang bagi pemimpin untuk membuktikan intergritasnya.

Terkait hasil pilkada yang tak berpihak kepadanya, suami Happy Farida itu mengatakan bangga dengan hasil tersebut, serta bersyukur Sumut tetap aman.

"Kita telah berjalan pada relnya, kita tidak melakukan politisasi SARA, money politics maupun hoaks,"katanya.

Djarot sempat berseloroh terkait pengalamannya bertemu sang relawan yang tidak terima dengan hasil pemilu.

"Dia datang ke rumah saya, kemudian bilang tidak bisa tidur. Dia meminta saya untuk tidak stress, wah salah itu, saya ajak dia sarapan bersama untuk makan sukun dan syukurlah semangat lagi, kita harus tetap semangat," ungkapnya.

Di ujung acara Djarot mengajak semua kalangan mengawal hasil pemilu dan tetap menghargainya.

"Mari kita beri kesempatan Pak Edy dan Pak Musa untuk memimpin Sumut, tugas kita adalah kawal," tegasnya. (cr7/tribun-medan.com)