Penjambret Serahkan Diri, Gelisah Dihantui Kematian Korban



Penjambret di kawasan Cempaka Putih berinisial SH (27) telah menyerahkan diri ke Polsek Jagakarsa. Aksi jambret SH telah menyebabkan perempuan W (37) meninggal saat menumpang ojek online di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Berdasar pengakuannya diketahui bahwa aksi jambret itu bukan kali pertama. SH mengaku sudah tiga kali melakukan aksi jambret di kawasan Cempaka Putih dan Jakarta Timur sejak Lebaran. Dia biasa beroperasi sekitar pukul 06.00-08.00 WIB.

Sehari-hari SH merupakan sopir angkutan kota. Dia menjambret W beberapa waktu lalu karena memiliki tunggakan angkot yang belum dibayarkannya selama dua hari.

Aksi tarik-menarik pun sempat terjadi antara SH dan W.

"Awalnya tas korban enggak dipegang waktu saya mau narik dia reflek dan saya lepaskan tarikan hingga dia jatuh. (Alasan menjambret) Saya ada tunggakan setoran angkot," ujarnya di Polres Metro Jakarta Pusat, Senin (9/7).

SH mengaku tidak menduga korban aksi jambretnya tewas. Dia baru mengetahui hal tersebut tiga hari setelahnya.

Karena takut, SH pun mendatangi rumah pamannya di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dia menceritakan kepada pamannya apa yang telah dilakukannya. Dia meminta supaya pamannya mau mengantarnya ke kantor polisi.

"Saya merasa takut waktu tiga hari setelah itu saya tahu korban meninggal, saya merasa bersalah dan saya ke rumah paman saya di Jagakarsa untuk minta solusi dan bantu saya menyerahkan diri. Saya merasa terbayang-bayang terus, saya juga susah tidur dan gelisah," ucapnya.

Selain karena terbayang-bayang oleh W, SH pun mengaku dirinya juga takut ditembak oleh polisi. Hal tersebut karena belakangan polisi sedang gencar melakukan penangkapan terhadap jambret dan begal dalam Operasi Kewilayahan Mandiri. Dalam operasi tersebut, polisi juga akan menembak pelaku jika melawan petugas.

"Tahu (begal dan jambret akan ditembak), jadi itu juga alasan serahkan diri," tuturnya.

Single fighter

Wakapolres Jakarta Pusat AKBP Arie Ardian mengatakan SH akan memantau lokasi penjambretan sebelum melakukan aksinya. Biasanya dia akan berkeliling dengan menggunakan sepeda motor.

"Keliling terus melihat di mana yang mudah diambil langsung dan berjalan dan biasanya yang menggunakan tas," ujarnya.

Menurut Arie, SH melakukan aksinya secara individu. Dia tidak terlibat dalam jaringan spesialis jambret yang ada di ibu kota.

"Dilihat beberapa kejadian ke belakang ya memang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat, itu wilayah operasi tersangka. Sejauh ini dia sendirian, single fighter," ujar Arie.

Dari hasil penyelidikan, SH diketahui telah beraksi sebanyak delapan kali. Dari setiap aksinya tersebut, SH berhasil mendapatkan tas dan telepon genggam.

SH selalu menargetkan korban yang sedang membawa tas. Meski sendirian, SH selalu memantau situasi sebelum aksinya dilakukan. Tidak hanya penumpang kendaraan bermotor tetapi pejalan kaki juga menjadi incarannya.

"Dari delapan kejadian semua yang diambil handphone dan tas. Dia keliling terus melihat di mana yang mudah diambil langsung dan berjalan biasanya menggunakan tas," tuturnya.

Peristiwa penjambretan yang dilakukan SH di kawasan Cempaka Putih sempat viral di media sosial. Dari aksinya tersebut, SH mengakibatkan seorang penumpang ojek online berinisial W (37) meninggal dunia karena jatuh dan terseret.

Motor yang saat itu dalam kecepatan tinggi membuat W hilang keseimbangan dan terjatuh. W sempat dibawa oleh warga sekitar dan pengemudi ojek online ke Rumah Sakit Mitra Kemayoran, namun nyawanya tak tertolong.

Usai kejadian itu, SH pun melarikan diri ke rumah pamannya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dia ditemani pamannya EK menyerahkan diri ke Polsek Jagakarsa pada Minggu (8/7) sekitar pukul 16.30 WIB.

Artikel Asli