Pedagang : "Padahal Habis Lebaran, Kenapa Harga Telur Naik Lagi?"




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah Lebaran, harga telur ayam terus mengalami kenaikan di sejumlah pasar tradisional di Jakarta. Termasuk di antaranya di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dan Pasar Cipete, Jakarta Selatan. Menurut pantauan Republika.co.id, Senin (9/7), rata-rata telur ayam menyentuh harga hingga Rp 29 ribu per kilogram dari harga Rp 22 ribu per kilogram pada Lebaran.


Kenaikan ini tak pelak membuat para pedagang merasa resah. Salah seorang pedagang di Pasar Senen Blok III, Ryan (38 tahun) mengaku kerap mendapat protes dari para pembeli.

"Mereka mengeluh kenapa semakin naik. Padahal abis Lebaran biasanya turun atau stabil," ujarnya ketika ditemui Republika.

Ryan tidak bisa menjawab atas keluhan dari para pelanggan yang juga mempertanyakan alasan kenaikan tersebut. Sebab, hingga kini, ia tidak mengetahui secara jelas alasan kenaikan harga telur ayam. Yang pasti, peningkatan harga ini sudah dialami Ryan dari distributor langganannya, yakni mencapai Rp 26 ribu sampai Rp 27 ribu per kilogram.

Sementara itu, menurut Dedi (30 tahun), pedagang di Pasar Kebayoran Lama, kebutuhan tinggi akan telur ayam di daerah-daerah lain menjadi pemicu naiknya harga komoditas. Akibatnya, stok ke Jakarta mengalami pengurangan hingga menyebabkan harga jual dari pasar induk mengalami kenaikan.

Tapi, Dedi tidak dapat memastikannya karena belum ada penjelasan detail dari pihak terkait seperti pemerintah maupun asosiasi. "Yang saya dengar-dengar sih seperti itu. Alasan lain, keterlambatan di proses pengiriman dari Blitar atau tempat produksi ke sini (Jakarta)," tutur lelaki asli Tegal, Jawa Tengah itu.

Alasan senada juga didengar salah seorang pedagang di Pasar Cipete, Sri (50 tahun). Harga telur ayam yang merangkak naik secara perlahan sejak Lebaran itu diakibatkan keterlambatan kedatangan komoditas di distributor maupun pasar induk.

Tapi, Sri yang sudah berjualan selama 10 tahun tersebut tidak tahu lebih detail tentang penyebab keterlambatan itu. Entah karena cuaca atau kondisi jalanan dari tempat panen sampai pasar induk, alasan ini belum didengarnya dari pihak terkait. "Saya cuma dengar dari distributor langganan saya, katanya seperti itu sih," ucapnya.

Terlepas dari penyebabnya, Sri berharap kenaikan harga telur ayam dapat segera diantisipasi pemerintah. Tidak hanya di pasar tradisional, ia melihat kondisi serupa juga terjadi di minimarket dekat Pasar Cipete. Harga jual telur ayam mencapai Rp 29 ribu per kilogram.

Selain telur ayam, Sri menyebutkan, kenaikan harga juga dialami telur puyuh. Dari biasanya Rp 30 ribu, komoditas ini sekarang dijual dengan harga Rp 32 ribu per kilogram. Sedangkan, telor ayam kampung cenderung stabil yakni Rp 1.800 sampai Rp 2.000 per butir, tidak jauh berbeda saat Lebaran.