Yudi Latif Mundur, Mahfud MD: Dia Single Parent, Istrinya Wafat



POJOKSATU.id, JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Yudi Latif yang menjabat Kepala BPIP mengundurkan diri.

Pengunduran diri Yudi itu memantik reaksi dan berbagai pendapat. Banyak pihak meyakini, hal itu disebabkan sorotan terhadap gaji BPIP beberapa waktu terakhir.

Pengunduran diri Yudi sendiri sudah viral sejak Jumat (8/6) pagi, setelah yang bersangkutan mengunggah pernyataan pengunduran dirinya di akun facebook miliknya.


Surat kepada Presiden Joko Widodo perihal pengunduran dirinya itu tertanggal 7 Juni.

Menanggapi hal itu, anggota Dewan Pengarah BPIP Mahfud MD enggan berkomentar banyak.

Namun, Mahfud meminta agar segala spekulasi dan duga-sangka atas keputusan Yudi itu tak diperdebatkan.

Demikian Mahfud kepada awak media ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (8/6/2018).

Guru besar Ilmu Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia itu sendiri mengaku terkejut dengan keputusan koleganya itu.

Sebab, sebelumnya Yudi disebutnya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda hendak meninggalkan posisi yang dijabatnya itu.

“Gagi kami mengejutkan. Kemarin saja masih ngantor, tapi tiba-tiba tadi pagi mengundurkan diri. tapi saya maklum aja,” ungkap Mahfud.

Pria kelhiran Sampang, Madura, Jawa Timur itu mengangap, tak ada yang harus diperdebatkan atas mundurnya cendikiawan kelahiran Sukabumi, Jawa Barat itu.

Sebab, Yudi sendiri sudah menjelaskan alasan pengunduran dirinya yang ingin memberikan waktu lebih kepada keluarganya.

“Kan alasannya di situ jelas. Dia ngurus keluarga. Dia itu kan seorang single parent ya. Jadi istrinya sudah wafat, anaknya perlu perhatian dia,” ucap Mahfud.

Mungkin saja, kata Mahfud, kapasitas kerja sebagai Kepala BPIP dianggap Yudi cukup menyita waktunya.

Akan tetapi, Mahfud menganggap alasan yang dikemukakan Yudi itu masuk akal dan biasa saja.


Terkait kritik yang ditujukan kepada BPIP soal pengunduran diri Yudi, lanjut Mahfud, diakuinya tak bisa dibendung.

Ia juga menegaskan, publik boleh saja berpendapat dan menafsirkan bermacam-macam.

“Kita tidak bisa menghalangi publik berpendapat apapun. Publik pasti macam-macam pendapatnya dalam hal apapun sama, ini pun begitu,” katanya.

Tak hanya itu, dirinya pun menampik keluarnya Yudi dari BPIP lantaran polemik mengenai gaji BPIP.

“Soal serangan gaji BPIP kan sudah selesai. Jadi bukan karena soal itu. Sekarang isunya kan bergeser ke pancasila lawan radikalisme,” pungkasnya.

Untuk diketahui, pengunduran Yudi Latif itu disampaikannya melalui akun facebook miliknya.

Menurut Yudi, perubahan UKP-PIP menjadi BPIP, telah membawa perubahan besar pada struktur, organisasi, peran dan fungsi lembaga.

Hal itu juga kemudian berpengaruh pada relasi antara Dewan Pengarah dan Pelaksana.

Yudi menilai, semua itu memerlukan tipe kecakapan, kepribadian, serta perhatian dan tanggung jawab yang berbeda.

“Saya merasa perlu ada pemimpin baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan,” katanya.

“Harus ada daun-daun yang gugur demi memberi kesempatan bagi tunas-tunas baru untuk bangkit,” lanjutnya.

“Sekarang, manakala proses transisi kelembagaan menuju BPIP hampir tuntas, adalah momen yang tepat untuk penyegaran kepemimpinan,” sambung dia.


“Saya mohon pamit,” tulisnya.

Yudi Latif lantas menjelanterahkan kalimat yang panjang dan multi makna tafsir.

“Segala yang lenyap adalah kebutuhan bagi yang lain, (itu sebabnya kita bergiliran lahir dan mati),”

“Seperti gelembung-gelembung di laut berasal, mereka muncul, kemudian pecah, dan kepada laut mereka kembali” begitu tulis Yudi mengutip dari essay Alexander Pope berjudul ‘An Essay on Man’.

(ruh/pojoksatu)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel