Menag Minta Masyarakat Hormati Perempuan Bercadar




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta masyarakat untuk tidak memberikan perlakuan diskriminatif dan tetap menghormati perempuang yang memakai cadar. Belakangan, perempuan bercadar memperoleh stigma menyusul teror bom yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

"Kita semua perlu menghormati mereka yang bercadar. Sebagaimana kita juga hormat kepada orang-orang lain yang gunakan berbagai macam atribut keagamaan," ujar Lukman di Jakarta, Jumat (18/5).


Ia mengakui insiden peledakan bom di tiga gereja di Surabaya pada Ahad (13/5), yang mana salah satu aksi itu melibatkan perempuan bercadar, akhirnya membuat sejumlah pihak menyimpan curiga kepada para pengguna cadar. Dugaan itu, kata Lukman, perlu dihilangkan karena alasan pemakaian cadar sesungguhnya diyakini karena sesuai dengan pemahaman serta pengamalan ajaran agama yang dianut para penggunanya, sehingga tidak tepat jika mereka disamaratakan dengan kelompok radikal.

"Pengguna cadar juga diharapkan bisa memahami sekaligus menghormati situasi lingkungan sekitarnya. Apalagi, kondisi belakangan ini, sebagian besar masyarakat kita punya semacam kerisauan atau keresahan terhadap mereka yang gunakan cadar itu," tutur dia.

Menurut Lukman, jika pengguna cadar tidak bersikap eksklusif dan tetap berbaur dengan masyarakat, maka prasangka terhadap mereka diyakini akan menghilang. "Tapi yang pasti yang memakai cadar maupun yang tidak, itu harus sama-sama menghormati. Kedua pihak punya kewajiban untuk memberikan rasa aman bagi lingkungan sekitarnya," kata dia.

Sebelumnya beredar video di media sosial yang menampilkan seorang perempuan pengguna cadar diminta turun dari bus oleh petugas Dishub di Terminal Gayatri, Tulungagung, Jawa Timur pada Senin (14/5). Menurut keterangan petugas, perempuan bercadar itu melakukan sikap yang mencurigakan karena tidak mau memberikan keterangan kepada petugas terminal.






Kecurigaan petugas bertambah setelah mengetahui perempuan berinisial SAN itu tidak menggunakan alas kaki sejak masuk terminal hingga naik bus jurusan Ponorogo. Menurut pengakuan SAN, dia adalah santri Pondok Pesantren Darussalam, Kelurahan Kampungdalem, Tulungagung.

Kala itu, SAN mengaku ingin pulang ke rumah di Ponorogo tanpa izin kepada pengurus pondok. Petugas Dishub menjelaskan SAN diturunkan karena gerak-geriknya mencurigakan dan bukan karena diskriminasi penumpang lain yang takut karena dia menggunakan cadar.