212 dan Perempuan di Lingkaran Terorisme





Tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, diguncang bom, Ahad (13/5) pagi. Serangan tersebut merenggut 18 jiwa dan melukai puluhan orang.

Kabar itu semakin menyesakkan begitu mendengar informasi tentang identitas pelaku pengeboman. Seorang ayah, dua anak remajanya, dan seorang ibu bersama dua gadis belianya berpencar ke tiga gereja dan meledakkan diri. Mereka satu keluarga!

Malamnya, kabar lain datang menyentak. Ledakan bom terdengar dari rusunawa di Wonocolo, Sidoarjo.

Satu keluarga yang terdiri atas seorang ayah, ibu, dan remaja putrinya tewas mengenaskan oleh bom yang disimpan di rumahnya. Tiga anak lainnya selamat dari ledakan yang tak disengaja tersebut.

Senin (14/5) pagi, bom motor meledak di depan gerbang Polrestabes Surabaya. Motor tersebut tampak ditumpangi perempuan dan seorang anak. Polisi masih melakukan olah tempat kejadian perkara. Belum terkonfirmasi jumlah korban maupun identitas pelaku.

Reaksi masyarakat beragam atas rentetan peristiwa tersebut. Sebagian langsung menunjukkan simpatinya terhadap korban. Sebagian lain merasa berduka dan merasa segenap anak bangsalah yang menjadi korban.

Di lain sisi, ada juga kalangan yang menuding insiden mematikan itu hanyalah skenario belaka. Beragam alasan mereka sodorkan. Salah satu yang paling mencuat adalah besaran anggaran penanggulangan terorisme.

Pernyataan mereka di media sosial memantik amarah warganet. Faktanya, korban telah berjatuhan. Melukai, merenggut nyawa orang tak pernah bisa dibenarkan. Ini adalah kejahatan kemanusiaan, sebuah kebiadaban.

Warganet lantas beramai-ramai melaporkan akun-akun yang mem-posting pernyataan yang diduga mengandung ujaran kebencian. Tudingan pemilik akun mendukung terorisme pun bergaung.

Perselisihan seperti ini tak boleh dibiarkan. Pemerintah dan tokoh masyarakat harus hadir menengahi, memberikan kesejukan dengan menyodorkan fakta yang dapat mencerahkan. Jika tidak, mereka akan menjadi bara dalam sekam kehidupan bernegara.

Teror bom juga menyisakan kekhawatiran umat Islam akan dipojokkan karena agama pelaku. Terlebih, pelaku terorisme kerap berkedok jihad dan membela Islam.

Sebagian warga khawatir tenunan indah harmoni antarumat beragama kembali terkoyak dengan adanya peristiwa memilukan dua hari ini. Kita patut bersyukur, itu tidak terjadi dan membuat keruh suasana.

Tokoh-tokoh lintas agama kompak menyatakan tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Alquran tak mengajarkan perbuatan keji. Pemahaman yang menyimpang terhadap agamalah membuat mereka menjustifikasi perbuatannya.

Saya jadi teringat petikan dialog film 212, the Power of Love. “Islam itu peace and love, rahmatan lil alamin. Yang radikal itu otak lo,” ujar Adhin pada Rahmat, seorang anak kiai, tumbuh besar di pesantren, dan lulusan terbaik Harvard University yang skeptis dengan agamanya sendiri.

Film yang berlatar Aksi Super Damai 212 ini sempat dicurigai bermotif politik. Semula saya agak khawatir tayangnya film ini akan membuat panas masyarakat, yang belum sepenuhnya bersatu kembali akibat kasus penistaan agama.

Saya yang juga hadir di Aksi 411 dan 212 tak bisa begitu saja memercayai nama besar Helvy Tiana Rosa—yang menjadi salah seorang penulis skenario—sebagai jaminan film ini bakal aman untuk ditonton anak bujang kami yang berusia 12 tahun. Saya dan suami lantas mencari tahu lebih banyak tentang film 212 dari berbagai sumber. Pencarian kami berujung pada banyak kesan positif.

Sabtu (12/5) lalu, kami sekeluarga akhirnya tergerak menonton. Hari ini, saya merasa film 212 semakin relevan dan penting untuk disaksikan seluruh anak negeri, tanpa memandang latar belakangnya.

Apalagi, kita baru saja dikejutkan dengan keberadaan perempuan-perempuan yang direkrut jaringan teroris sebagai martir. Ini merupakan pola baru di Indonesia. Sebelumnya, kaum Hawa digamit untuk menjadi penyandang dana, perakit bom, dan perekrut perempuan lain.

Konon, perempuan yang telah didoktrin lebih loyal, sukar dibelokkan, dan militan. Untuk itu, harus ada langkah teratur yang ditempuh untuk menghentikannya.

Lewat sosok Yasna, film 212 memberi gambaran salah satu solusinya. Dokudrama yang dibalut dengan autokritik terhadap umat Islam ini memperkenalkan gadis yang lembut, tegas, peka terhadap lingkungan sosial, dan berwawasan.

Tanpa kekuatan super ala Avengers, Yasna berani menyeruak di antara kerumunan pria beremosi tinggi untuk meredakan tensi seraya menyerukan kebaikan. Saat melihat kemungkaran, nuraninya terusik dan dia melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan.

Saya percaya, di dunia nyata banyak Muslimah seperti Yasna. Mereka berperan besar di masyarakat, tak terkecuali dalam menjaga sesamanya dari tipu daya jaringan teroris. Tentunya, perempuan bisa seperti itu ketika mereka memiliki akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan bekerja.

Di ujung cerita, 212 telah membukakan hati yang penuh curiga. Cinta datang menyentuh kalbu, menenteramkan hubungan horizontal, antara sesama manusia.

Saya berharap rentetan insiden yang mengguncang ini membuat pegangan tangan anak bangsa semakin erat untuk saling melindungi, menguatkan, dan menepis segala ancaman yang dapat mengusik persatuan.

Tentunya, peran masyarakat saja tidak cukup. Perangkat pemerintah harus hadir dalam upaya penanganan isu terorisme dan radikalisme serta menderadikalisasi mereka yang terpapar paham-paham menyimpang.

Duka mendalam untuk tragedi Surabaya, innalillahi wa inna ilaihi rojiun…

 Oleh Reiny Dwinanda*
*Penulis adalah wartawan Republika