Sah! Djarot Diusung PDIP Jadi Bakal Cagub Sumut, Ini Kata Pengamat Di Medan



Djarot Saiful Hidayat akhirnya resmi diusung PDI Perjuangan menjadi bakal calon Gubernur Sumatera Utara (Sumut). Nama Djarot diumumkan langsung Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Untuk Sumatera, saya mau masukkan Pak Djarot ke sana," ujar Megawati di kantor DPP PDIP, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (4/1/2018).

Megawati menyebut Djarot sebagai calon yang pas untuk membenahi Sumut. Nama Djarot, kata Mega, tercetus ketika dirinya berbincang dengan Sekjen Hasto Kristiyanto.




"Untung Djarot mau, katanya sebagai petugas partai dia bersedia," kata Megawati.

Djarot diyakini Mega mampu memimpin Sumut menjadi lebih baik. Tapi soal bakal cawagub yang akan dipasangkan dengan Djarot, Megawati masih menyimpan rapat nama orang tersebut.

"Menurut saya, yang bisa menjawab permasalahan kegelisahan itu adalah Djarot Syaiful Hidayat," katanya.

Kondisi ini mendapat respon dari pengamat politik ternama dari Medan Shohibul Anshor dalam status faceboknya. Dia memposting dengan judul : SIAPA WAKIL DJAROT?

berikut postingannya :

Hari ini PDIP telah mengumumkan jagoannya untuk Sumut.
Kelihatannya belum ada kata putus tentang siapa yang menjadi pasangan dan partai mana yang akan digandeng untuk mencukupi syarat pencalonan minimal 20 kursi di DPRDSU.
Mungkin lebih mudah membayangkan calon wakil dengan perspektif SARA dan kepartaian.
Jadi, kemungkinan besar Wakil Djarot adalah:
(-) Orang Partai yang bukan Jawa, muslim;
(-) Orang Partai yang bukan Jawa, non muslim;
(-) Orang non-partai yang bukan Jawa, muslim;
(-) Orang non-partai yang bukan Jawa, non muslim;
Dengan kriteria itu nama-nama seperti Nurhajizah Marpaung, Sihar Sitorus, Abdon Nababan dan bahkan Ivan Iskandar Batubara pun punya peluang.
Kalo betul info Anang Anas Azhar dlm status fbnya hari ini yang mengatakan bahwa NasDem juga sudah pergi dari "sana", itu boleh jadi dimaksudkan untuk memasangkan Prananda Surya Paloh dengan tokoh "outsourcing" ini.
Nah, jika koalisi yang dibangun HT Erry benar-benar sudah bubar, bagaimana menghitung keberadaan beliau? Sebagai Wakil apa mungkin?
Maaf, saya tidak melihat dari aspek apakah nama-nama yang saya sebut itu bersedia atau tidak.
Setelah pasangan diumumkan, barulah mulai bisa dihitung Nasib Djarot, kalah (lagi) atau menang.
Makin mudah menghitung peluang dan kendalanya jika pasangan lain sudah ditetapkan.
Dinamika ini masih berlanjut, termasuk perlunya menghitung kedahsyatan bombardir politik ke Panglima TNI dan Presiden agar Edy Rahmayadi tidak bisa maju. Rakyat Sumut sangat tidak happy dengan itu, dan saya kira akan menimbulkan kegoncangan besar karena hasilnya bisa yang akhirnya bertarung adalah Djarot vs JR.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel