La Nyalla Tunjukkan Surat Dukungan dari Alumni 212 untuk Pilkada




Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur La Nyalla Mattalitti menunjukkan surat dukungan alumni 212 terhadap lima peserta kelompok aksi 2 Desember 2016 atau 212 sebagai bakal calon kepala daerah. Dalam surat itu, salah satunya terdapat nama La Nyalla, yang didukung dalam pilkada Jawa Timur.

Dalam surat itu tertulis dukungan untuk Dede Muharram sebagai calon Wali Kota Cirebon, Nur Sukma untuk calon Wali Kota Bogor, La Nyalla untuk calon Gubernur Jawa Timur, dan Aji Dedi Mulawarman sebagai calon Gubernur Kalimantan Timur. Surat itu ditandatangani Abdul Rasyid, Muhammad Al Khathath, dan Aru Seif Asadullah, serta tertulis atas nama para ulama dan aktivis 212.

Surat dukungan itu dijadikan La Nyalla sebagai bukti dukungan dan empati aktivis 212 terhadap dirinya dalam dugaan pemerasan Rp 40 miliar oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. La Nyalla sendiri mengaku tidak pernah mengajak peserta aksi 212 ikut campur dalam masalah ini. “Justru mereka memberikan dukungan dan empati atas persoalan ini,” ujarnya saat dihubungi Tempo, Ahad, 14 Januari 2018.

La Nyalla mengatakan Prabowo meminta uang Rp 40 miliar kepadanya sebagai dana saksi untuk menjadikannya sebagai calon Gubernur Jawa Timur. La Nyalla pun mengadukan persoalan itu kepada alumni 212.

Namun Aminudin, salah satu tokoh alumni 212, membantah bahwa Presidium Alumni 212 pernah mengeluarkan surat dukungan terhadap La Nyalla. Salah satu anggota Presidium Alumni 212, yang juga Ketua Garda 212, Ansufri Idrus Sambo, mengatakan surat itu hanya bersifat pribadi dari tokoh-tokoh alumni 212. “Tidak ada kaitannya dengan alumni 212,” katanya saat dihubungi Tempo, Ahad.

Batalnya La Nyalla menjadi calon Gubernur Jawa Timur, kata Idrus, merupakan urusan pribadi dan tidak ada kaitannya dengan alumni 212. Pihaknya hanya menghargai jika La Nyalla ingin maju dalam pilkada Jawa Timur. Namun, ketika batal, ia berharap La Nyalla tidak menyeret-nyeret alumni 212 terkait dengan konfliknya dengan Prabowo. "Kami tidak ingin alumni 212 dipakai, apalagi sampai dibenturkan dengan partai, yang selama ini selalu bersama kami mendukung 212, yakni PKS (Partai Keadilan Sejahtera), Gerindra, dan PAN (Partai Amanat Nasional," tuturnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ahmad Riza Patria membantah pernyataan La Nyalla soal pemerasan yang dilakukan Prabowo. Menurut Riza, justru Gerindra yang mencari uang untuk para pasangan calon yang diusung dalam pilkada. "Enggak ada itu. Kami sudah paham aturan, enggak ada mahar-mahar," katanya kepada Tempo di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senayan, Jakarta, Kamis, 11 Januari 2018.

Tempo