Gaya Pengacara Harus Mewah?Ini Kata Hotman Paris dan Elza Syarief



Jakarta - "Saya suka kemewahan," kata pengacara Fredrich Yunadi saat diwawancara oleh Najwa Shihab pada Jumat  24 November 2017. Dalam wawancara yang ditayangkan di You Tube ini,Fredrich mengaku suka pergi ke luar negeri dan menghabiskan minimal Rp 3 miliar. Ia pun dengan gampang mengaku suka membeli tas mahal Hermes yang seharga Rp 1 miliar.

Kata 'Saya suka kemewahan' sempat menjadi perhatian masyarakat luas. 'Motto' itu pun sempat menjadi candaan masyarakat melalui meme yang tersebar di dunia maya.

Ada alasan kenapa pengacara selalu berpenampilan mentereng saat tampil di hadapan publik. Pengacara Hotman Paris merasa hal itu menunjukkan kualitas pengacara tersebut. Ia mengungkapkan, dirinya pernah menangani perkara internasional dan berhadapan dengan pengacara asing yang menganggap pengacara asal Indonesia tidak berkualitas. "Dilihat penampilan, saya lebih hebat. Secara psikologis menang selangkah," katanya kepada Tempo. Baca: 6 Hal Penting tentang Hepatitis, Simak Ahli

Hotman menuturkan, pakaian yang dikenakannya dan cincin berlian di jari-jarinya bukanlah untuk pamer, melainkan merupakan modalnya dalam berbisnis sebagai pengacara. "Menunjukkan kualitas karena sanggup beli berlian, dasi, dan jas bermerek, ada kemampuan finansial," dia mengungkapkan.

Bagi Hotman, penampilan sangat berpengaruh terhadap lawan dan klien, karena modal pengacara adalah bagaimana meyakinkan orang lain, dan ia berpikiran bagaimana bisa meyakinkan orang lain jika dirinya sendiri tidak berpenampilan meyakinkan. Hotman merasa calon kliennya bisa kabur jika dirinya tidak berpenampilan menarik.




Fredrich Yunadi, pengacara Setya Novanto, pamer kekayaan warisan sampai pelesir mewah dalam acara Catatan Najwa Shihab yang diunggah ke Youtube.

Terlebih, Hotman menjelaskan, kehidupan sebagai pengacara sudah seperti medan konflik sehingga pihak-pihak yang ditemuinya akan mencari-cari kelemahannya setiap waktu. Pengacara yang sedang rajin mengunggah kegiatannya di Instagram ini mengaku sudah melakukan hal ini sejak 20 tahun silam. Saat itu ia tengah berkarier di firma hukum Makarim & Taira S.

Elza Syarief mengakui ada pengacara yang menonjolkan kemewahan sebagai strategi agar tidak diremehkan dan untuk memberikan batasan soal honor kepada calon kliennya. Ia mencontohkan, seorang pengacara datang menemui kliennya menggunakan mobil mewah agar kliennya malu untuk menawar honor yang ditetapkan. Baca: Demi Sehat, Lakukan 'Sarapan ala Raja, Makan Malam ala Pengemis'

Bahkan, Elza menjelaskan, ada kemungkinan pula klien akan berpikir pengacara tersebut sudah memiliki klien yang banyak dan telah berpengalaman sehingga mampu membeli mobil mewah, berbelanja barang mewah, dan berlibur ke luar negeri.

Meski begitu, Elza mengimbuhkan, ada juga pengacara yang merasa bahwa itulah gaya hidupnya dan dia sedang menikmati kesuksesan dengan menunjukkan keberhasilannya. Cara seperti ini juga dilakukan agar pengacara tersebut bisa terus eksis. "Jadi, ada yang sebagai strategi, ada yang ingin menikmati." Baca: Rawan Gangguan Jiwa, Perlindungan Mental Pekerja Masih Minim

Elza menegaskan tidak semua pengacara seperti itu, ada juga pengacara berduit tapi bersikap atau memiliki gaya hidup yang wajar saja. Terlebih, ia menilai, hanya segelintir pengacara yang mampu memiliki gaya hidup mewah. "Mungkin tidak sampai 500 orang."

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel