Divonis Mati, Otak Pembunuhan Satu Keluarga di Medan Menangis Ketakutan



Otak pelaku pembunuhan satu keluarga di Medan pada April 2017, Andi Matalata alias Andi Lala, divonis hukuman mati dalam sidang di Pengadilan Negeri Medan, Jumat, 12 Januari 2018.

Selain kasus pembunuhan satu keluarga, Andi Lala diputus bersalah atas kasus pembunuhan di Lubuk Pakam terhadap seseorang yang diduga selingkuhan istrinya. "Pengadilan menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa Andi Lala alias Andi Matalata dengan pidana mati," ujar ketua majelis hakim Domingus Silaban.

Dalam amar putusannya, Domingus mengatakan Andi Lala terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dalam dua kasus pembunuhan sekaligus. Andi Lala dinyatakan melanggar Pasal 340 juncto Pasal 55 ayat (1) juncto Pasal 65 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dalam dakwaan alternatif ke-1 primer.


Majelis hakim menilai hal yang memberatkan terdakwa, yaitu perbuatannya telah menghilangkan nyawa orang lain. Tidak adanya ucapan permintaan maaf yang didengar majelis hakim dari terdakwa, menyebabkan tidak ada faktor yang patut dijadikan pertimbangan meringankan hukuman Andi Lala.

Majelis hakim juga menjatuhkan hukuman berat kepada terdakwa lain yang membantu pembunuhan, yakni Andi Syahputra alias Andi Keleng dan Roni Anggara. "Keduanya dijatuhi hukuman 20 tahun kurungan penjara sesuai Pasal 340 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP," tutur Domingus.

Hakim memberi waktu bagi para terdakwa untuk memutuskan langkah hukum yang akan diambil dalam menyikapi vonis tersebut. Seusai persidangan, Andi Lala dan para pelaku keluar dari luar ruangan sambil menangis dan tanpa berkomentar.

Selain kasus pembunuhan yang mengakibatkan lima orang meninggal dan satu balita luka berat, Andi Lala menjadi otak terhadap pembunuhan selingkuhan istrinya, Suherwan alias Iwan Kakek, di Lubuk Pakam pada Juli 2015. Dalam kasus ini, Andi Lala dibantu istrinya, Reni Safitri, dan temannya, Irfan.

tempo

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel