Selalu Bawa Pistol, Pemilik Pabrik Narkoba Depok Mengaku dari BIN



AU alias Uut, pria yang diduga pemilik pabrik narkoba Depok jenis ekstasi dikenal oleh lingkungannya sebagai anggota Polri dan bertugas di Badan Intelijen Negara.

Hampir setahun Uut bersama istrinya, L, dan dua anaknya mengontrak rumah di Blok A/6A Griya Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat, tersebut. Menurut petugas Satuan Pengamanan (Satpam) Griya Sukmajaya, Nendi, harga sewa rumah itu sekitar Rp 19 juta setahun.

"Tidak tahu, ya aktivitasnya di rumah apa. Karena jarang bersosialisasi," kata Nendi saat ditemui Tempo di Griya Sukmajaya, Depok, pada Jumat, 29 Desember 2017.


Nendi menjelaskan, rumah itu sepi saat siang hari. Pada malam hari banyak tamu yang datang kemudian pergi sampai sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. "Gaduh suaranya."

Nendi pernah menyampaikan teguran kepada L. Menurut L, kata Nendi, orang-orang yang masuk-keluar kompleks itu adalah tamu-tamu anaknya.

"Tidak curiga, sih karena bapaknya mengakunya sebagai polisi dan anggota BIN," tutur Nendi.

Rumah itu digerebek tim Polres Metro Bekasi pada 20 Desember 2017, hari yang sama dengan penembakan AM, bandar narkoba di Depok yang melawan ketika digelandang polisi untuk menujukkan pabrik narkoba itu. Polisi tak menemukan Uut dan L di rumah yang menjadi pabrik ekstasi dengan omzet sekitar Rp 2 miliar per hari tadi.

Polisi hanya mendapati anak perempuan Uut kemudian membawanya pergi. Berdasarkan penyelidikan polisi, AM adalah keponakan Uut. Keduanya terkait dengan jaringan gembong narkoba Pony Tjandra yang mendekam di LP Cipinang.

Polisi pun memburu Uut. Jumat lalu, 29 Desember 2017, tim Polres Bekasi datang lagi untuk mencari barang bukti.

"Dari rumah ini bisa diproduksi sekitar 10 ribu ekstasi setiap harinya," kata Kepala Satuan Narkoba Polresta Bekasi Ajun Komisaris Besar Ahmad Fanani di Griya Sukmajaya kemarin.

Menurut Ahmad, untuk memudahkan gerak jaringan Uut mengaku sebagai anggota Kepolisian dan BIN. "AU ke mana-mana membawa pistol, sama seperti tersangka MA yang tewas."

Jaringan ini sudah lama dikejar oleh Badan Narkotika Nasional, Direktorat IV Narkotika Bareskrim Mabes Polri, dan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya. Ahmad mengatakan, mereka tergolong licin karena susah terpantau pergerakannya. Bahkan, AM pernah lolos dari penyergapan karena melawan dengan senjata api.

Total tersangka yang ditangkap Polres Metro Bekasi dari pengungkapan pabrik narkoba Depok sebanyak tujuh orang. Mereka adalah AS, TP, RW, AR, MA, YK, serta HS yang dicokok di tiga lokasi Bekasi, Depok, dan Cianjur. Sedangkan AM ditembak mati dengan alasan melawan petugas.

tempo

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel