Erdogan Dengan Israel : 'Sangar diluar, Mesrah di Dalam'







Menyusul krisis Masjid Al-Aqsa, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) akan menggelar pertemuan di Istanbul, Turki, Selasa pekan depan.

Turki dengan geopolitiknya di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan dipersepsi oleh sebagian kalangan sebagai manifestasi kebangkitan kembali khilafah, berani melawan Israel, musuh besar di kawasan yang ditakuti Israel.

Masih segar dalam benak apa yang kemudian dikenal di kalangan diplomatik sebagai 'one minute crisis in Davos' yakni bagaimana PM Erdogan saat itu terlibat konfrontasi terbuka melawan PM Israel Shimon Peres pada forum World Economic Forum di Davos (2009).


Dalam silang kata yang panas, moderator berulang kali berusaha menyudahi, berkata Erdogan kepada Peres bahwa serangan udara dan invasi darat Israel ke wilayah teritorial Palestina (2008) sangat salah dan telah membunuh banyak warga Palestina.

Konfrontasi terbuka antara Erdogan-Peres disusul insiden sergapan militer Israel terhadap konvoi armada kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara atau disebut juga Gaza Freedom Flotilla untuk Gaza. Sekurangnya 9 aktivis kemanusiaan berwarga negara Turki terbunuh dalam insiden di perairan internasional Laut Tengah itu.

Namun demikian, Turki-Israel tetap mesra layaknya sahabat satu bantal. Tensi menurun melalui Perjanjian Roma (2016), isinya antara lain Israel setuju membayar ganti rugi Euro 18 juta kepada keluarga 9 warga Turki yang terbunuh, sebaliknya Turki menarik gugatan hukum terhadap para tentara Israel (IDF), yang terlibat dalam insiden.

Saat tensi terkesan meningkat itu volume perdagangan Turki-Israel justru terus meningkat. Bahkan Konsul Jenderal Israel di Turki Shai Cohen saat itu kepada CNN mengatakan bahwa pada 2014 kedua pihak membukukan kenaikan volume perdagangan 30% yakni senilai US$ 5,5 miliar. Angka ini disebut sebagai belum pernah dicapai sebelumnya.

Sejak insiden Mavi Marmara volume perdagangan Turki-Israel bahkan meningkat 47%. Nilai perdagangan Turki-Israel malah jauh lebih besar dari total nilai perdagangan Turki dengan negara-negara Islam keseluruhan. "Anda lihat kontradiksi-kontradiksi Turki antara ucapan dan tindakan dalam hal hubungan dengan Israel," komentar Sedat La├žiner, jurnalis, juga Guru Besar Keamanan Internasional dan Hubungan Internasional Universitas Onsekiz Mart, Turki (Jonet, 4/6/2015).


Kedua negara, meskipun ada haluan baru Erdogan dengan retorika anti-Israel, tetap bersahabat bahkan juga sekutu satu sama lain dalam NATO. Berbeda dengan Malaysia dan Indonesia yang tidak punya hubungan diplomatik, Turki bahkan telah menjalin hubungan diplomatik dengan negara Yahudi itu sejak 1950 dan tidak berubah sampai Erdogan sekarang. 

Hal lain, warga negara Israel atau pemegang paspor Israel tidak perlu visa untuk masuk ke Turki. Mereka bisa masuk ke Turki kapan saja mereka mau, seperti masuk ke negara sendiri. Tanpa visa. Tidak hanya itu, Turki adalah salah satu negara pertama yang mengakui negara Israel pada 1949, selang setahun setelah Israel diproklamirkan pada 1948.

Di samping berbagai bentuk kerjasama tersebut di atas, kedua negara juga memiliki perjanjian kerjasama bilateral di berbagai bidang lainnya, antara lain kerjasama kepolisian, pertukaran kebudayaan, pembangunan pertanian, perdagangan dan ilmu pengetahuan.

Data Institut Turki menyebutkan, di bidang hankam kedua negara memiliki perjanjian Security and Confidentiality Pact (Perjanjian Keamanan dan Kerahasiaan), diteken pada 31 Mei 1994, di mana kedua negara sepakat saling tukar menukar informasi dan dijamin kerahasiaannya bagi pihak ketiga mana pun, latihan militer bersama serta produksi dan perdagangan senjata.

Sebelumnya, hubungan kerjasama Turki-Israel di bidang hankam ini telah lebih dulu diintensifkan mulai 1993. Kedua pihak sepakat membentuk komisi-komisi bersama dengan tujuan untuk meningkatkan kerjasama penanggulangan terorisme dan pengumpulan data intelijen mengenai Suriah, Iran dan Irak.

Jauh sebelumnya Turki-Israel juga telah menandatangani Pakta Periferal (1958), isinya antara lain kedua pihak sepakat untuk saling bertukar informasi intelijen dan kampanye kehumasan ke dalam komunitas dan rakyat masing-masing. 

Itu sebabnya mengapa pada Perang Arab-Israel 1967 Turki terlihat mengecam Israel, namun sekaligus menolak klausul yang menyatakan Israel sebagai agresor. Perang 1967 menyebabkan jatuhnya Yerusalem Timur termasuk kawasan Masjid Al-Aqsa ke tangan Israel, sampai sekarang.
Menarik untuk ditunggu bagaimana Turki mengambil posisi dalam pertemuan OKI pekan depan di Istanbul itu dan seberapa bergigi OKI dalam merumuskan sikap atas krisis Yerusalem Timur, khususnya kawasan suci Masjid Al-Aqsa.


Kumparan
Laporan dari kumparan Den Haag Eddi Santosa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel