Capaian Kapitalisme





Dalam demokrasi, kapitalisasi adalah keniscayaan. Karena kapitalisme itu lahir dari rahim kebebasan yang berselingkuh dengan angka-angka kualitatif. Ringkasnya begini, ketika demokrasi mensyaratkan jumlah yang banyak dan kebebasan sebagai penyangganya, maka pasti akan hidup kapitalisasi di sana.

Tapi demokrasi itu juga punya penawar, dialah filantropis. Kalau kapitalisme itu adalah menyerap dan menghisap segala sesuatu, maka filantropis itu menyemainya kembali. Kalau kapitalisme itu menguasai, maka filantropis itu senyum ramah-tamahnya.

Itulah mengapa ketika setelah sekian ratus tahun Belanda menjajah negeri ini, mereka merasa perlu menjalankan politik etis. Atau Amerika Serikat, Australia dan sekutunya yang punya beragam aid, serta sekian banyak lembaga donornya.

Tapi urut-urutannya selalu begitu; genggam dulu baru bagikan sedikit demi sedikit. Inipun bukan tanpa interest. Karena di belahan bumi di mana kapitalisme itu berasal, filantropi itu sama mendarahdagingnya dengan interst itu sendiri. No free lunch, kata mereka. Ini artinya, kalau Anda tidak punya nilai yang menguntungkan, aid itu tak pernah Anda nikmati—meskipun Anda adalah objek langsung kapitalisme itu.

Mendarahdaging? Ya, lihat saja Bill Gates, Warrant Buffet atau Mark Zuckerberg. Mereka adalah orang-orang kaya yang rajin menyumbangkan duitnya untuk kegiatan amal. Anda akan menemukan cerita yang sama di antara orang-orang kaya di sana. Kapitalisme itu serupa virus ideologi penguasaan sumber-sumber daya, tetapi tetap ada akal sehat di sana.

Dan inilah celakanya bagi kita. Demokrasi yang menjadi pilihan, dicomot serampangan tanpa memeluk filantropi sebagai anti-virusnya. Kaki tangan kapitalisme kini menjangkau pinggiran. Pasar-pasar tradisional dilahap sedemikian rupa, yang tanpa argumentasi lantas terpinggirkan sistem yang memihak.
***
Pria itu, shalatnya panjang, doanya pun panjang. Niatnya sudah bulat, dia harus memulai usahanya ini dengan langkah mantap. Pagi hari sebelum semua toko di pusat perbelanjaan itu dibuka, dia sudah datang. Di pelukannya ada mushaf Al-Qur’an. Dia membacanya di dalam toko kecil itu di hari pertama dia memulai usahanya.

Ketika dia shalat, berdoa, dan membaca Al-Qur’an, ketika itu dia ingin melibatkan langit pada usaha yang baru dijalaninya. Polanya seperti ini; dia berupaya semampunya, dan berdoa sekuatnya, lantas hasilnya dia serahkan sepenuhnya pada ketentuan Tuhan. Dia ingin tetap melabuhkan diri kepada Sang Pencipta di antara usaha yang dilakukan di luas samudera hidupnya.

Ini model yang berbeda sama sekali dengan kapitalisme. Dia bukan penguasaan, tetapi strategi bertahan hidup. Kalaupun nanti dia menjadi penguasa besar yang sukses, itu tak lebih dari konsekuensi yang harus diembannya. Karena sepanjang doanya berakar dari hati, maka ia akan selalu presisi dan bukan basa basi. Sepanjang doanya berakar di hati, maka kata-katanya akan selalu punya daya gugah dan punya arti. Ini berbeda dengan kapitalisme yang punya watak terbelah antara kata dan makna.
***
Tahun 2010 lalu Warren Buffet menggeser posisi Bill Gates sebagai orang terkaya. Di tahun ini pula Buffet besama Bill Gates mendeklarasikan The Giving Pledge, berupa berkomitmen menyumbangkan sedikitnya separuh kekayaan mereka untuk kemanusiaan.

Buffet, si anak koran ini sepertinya sangat bersemangat menyumbangkan hartanya. Karena nyatanya, semakin banyak dia menyumbang, semakin melimpah harta bendanya. Mungkin dia dari jenis orang yang sudah merasakan bahwa harta yang diberikan untuk kepentingan manusia lain, bukannya berkurang, malah bertambah.

Saya menduga ini motif terselubung di balik semangatnya menyumbangkan harta. Tapi itu juga bukan satu-satunya motif. Dengarkanlah nasehat-nasehatnya ini: With money: You can buy a house, but not a home. You can buy a clock, but not time. You can buy a bed, but not sleep. You can buy a book, but not knowledge. You can get a position, but not respect. You can buy blood, but not life. So find your happiness inside you. (Dengan uang engkau bisa membeli bangunan tapi bukan rumah. Engkau bisa membeli jam tapi bukan waktu. Engkau bisa membeli tempat tidur tapi tidak bisa membeli tidur. Engkau bisa membeli buku tapi tidak bisa membeli pengetahuan. Engkau bisa membeli jabatan, tapi tidak bisa membeli rasa hormat. Engkau bisa membeli darah tapi tidak bisa membeli hidup. Jadi, temukanlah kebahagiaan dalam dirimu).

Maka Buffet lebih mirip ironi kapitalisme. Dia adalah salah satu orang yang bisa sampai puncak-puncak capaian kapitalisme. Tapi di puncak sana, dia justru menemukan kesederhanaan saja. Kesederhanaan yang tak mungkin bisa diresapinya tanpa melibatkan langit.

Penulis : Dr.Dedi Sahputra (Pakar Komunikasi/Jurnalis Senior)
Dikutip dari Foliopini Harian Waspada

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel