Heboh Penutupan Alexis dan Sejarah Pelacuran di Jakarta


lokalisasi prostitusi di Jakarta tahun 1948


Tidak diperpanjangnya izin Hotel Alexis menjadi pemberitaan hangat beberapa hari terakhir. Tidak diperpanjangnya izin hotel yang disebut-sebut berkecimpung dalam bisnis prostitusi itu menjadi janji Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno pada masa kampanye.

Bicara bisnis esek-esek, Jakarta sudah lama dikenal sebagai kota penyedia 'kupu-kupu malam'. Kita tentu masih ingat beberapa tahun lalu, kawasan Mangga Besar oleh kepolisian dinyatakan sebagai salah satu pusat transaksi narkoba di Jakarta. Penyebabnya karena kawasan di Jakarta kota ini dipadati berbagai tempat hiburan: pelacuran, klab malam, panti pijat, perjudian, dan entah apa lagi namanya.

Pelacuran memang sudah merajelela sejak awal berdirinya Kota Batavia. Akibat kurangnya jumlah wanita saat itu, bisnis pelacuran pun menggeliat.

Seperti pada 13 Agustus 1625, hanya enam tahun setelah JP Coen mendirikan Batavia, seorang perempuan pribumi, Maria, mengadukan suaminya, Manuel, pada polisi. Manuel memaksa dirinya dan budak perempuannya untuk mencari nafkah haram dengan menerima uang 'lendir' setiap hari.

Pada Agustus 1631 diketahui beberapa perempuan telah melakukan zinah dengan orang-orang Cina dan Banda. Sementara sejumlah orang yang memelihara budak-budak perempuan memerintah mereka untuk melacur setiap harinya. Sementara si pemilik budak tinggal memetik penghasilan besar.

Pelacuran di Jakarta sudah dikenal sejak awal munculnya VOC. Dalam sejarah Betawi tidak dikenal pekerjaaan serupa baik pada masa pra Islam maupun di masa Islam.

Orang Betawi sendiri pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur yang kemudian dilunakkan sebutannya jadi WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini lebih diperlunak lagi jadi PSK (Pekerja Seks Komersial). Orang Betawi menyebutnya dengan cabo yang merupakan adaptasi dari bahasa Cina caibo dan moler berasal dari bahasa Portugis. Sebutan lainnya adalah kupu-kupu malam.

Seperti Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang, sejak dulu tempat operasi WTS selalu dekat dengan kawasan niaga dan perhotelan. Tak heran jika Hotel Alexis dicurigai menyediakan jasa pemuas nafsu laki-laki.

Macao di Stasiun Beos

Tempat konsentrasi pelacur pertama di Batavia adalah Macao Po yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasiun Beos (Jakarta kota). Lokalisasi pelacuran ini memang untuk kalangan atas alias mereka yang berkantong tebal. Karena para pelacurnya didatangkan dari Macao oleh jaringan germo Portugis dan Cina.

Seperti juga sekarang ini, banyak klub malam yang menghadirkan penghibur dan pelacur dari Hongkong, Taiwan, Pilipina, dan berbagai negara lain. Di Macao Po para pejajannya adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan taipan atau orang berduit keturunan Cina.

Di dekat Macao Po, masih di kawasan Glodok terdapat pelacuran kelas rendah Gang Mangga. Tidak heran kalau sakit ‘perempuan’ kala itu disebut ‘sakit mangga’. Kemudian dikenal dengan sebutan raja singa atau sipilis.

Di abad ke-19, sipilis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena saat itu belum ditemukan antibiotik. Penyakit itu mungkin bisa dikatakan seragam dengan AIDS/HIV sekarang ini yang sudah menginfeksi sekitar 130 ribu hingga 150 ribu orang di Indonesia yang 80 persen di antaranya usia produktif 15–29 tahun.

Kompleks pelacuran Gang Mangga ini kemudian tersaingi oleh rumah-rumah bordil yang didirikan orang Cina yang disebut soehian. Lokalisasi ini ditutup pada awal abad ke-20 karena sering terjadi keributan. Tapi kata soehian tidak pernah hilang dalam dialek Betawi untuk menunjukkan kata sial. Dasar suwean (sialan).

Setelah penyerahan kedaulatan, kompleks pelacuran terdapat di berbagai tempat di Jakarta. Seperti Gang Hauber di Petojo yang terdiri dari Gang Hauber I, II, dan III yang oleh Wali Kota Sudiro pada pertengahan 1950-an diganti Gang Sadar. Tapi, si pelacur dan laki-laki hidung belang tidak sadar-sadar karena sampai awal 1980-an masih beroperasi.

Di Planet Senen, PSK Bercinta dengan Pelanggannya di Gerbong Kereta Bekas

Di Sawah Besar terdapat kompleks pelacuran Kaligot, mengambil nama sandiwara Prancis Aligot yang pada 1930-an manggung di Batavia. Sedangkan, di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran. Planet Senen namanya.

Nama planet ini diambil ketika terjadi persaingan antara AS dan Uni Soviet untuk meluncurkan sputnik ke Plannet pada 1960-an. Atau tempat pelacuran Malvinas di Bekasi yang menjulang saat terjadi perang antara Inggris dan Argentina memperebutkan kepulauan Malvinas (Folkland) di tahun 1980-an.

Di Planet Senen, pelacuran kelas bawah ini berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen hingga Jl Tanah Nyonya (Gunung Sahari) yang panjangnya beberapa ratus meter. Selain itu, operasi juga ngamar di rumah-rumah kardus dekat rel kereta api.

Tempat pelacuran yang setiap hari didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971). Pekerja seksnya dipindahkan ke Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Sebelum ditertibkan Bang Ali, di sekitar Senen dari depan Bioskop Rivoli di Palputi hingga depan Bioskop Grand (Kramat) ratusan becak berseliweran dengan muatan para pelacur.

Hiburan bergengsi di Jakarta baru dimulai pada masa Ali Sadikin. Dipelopori tokoh perfilman Usmar Ismail yang mendirikan klub malam Mirasa Sky Club di puncak Gedung Sarinah di Jl Thamrin. Setelah ini berjamuran puluhan klab malam, panti pijat, diskotek, pub, salon, dan lokalisasi liar muncul di Jakarta. Striptease yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di Singapura hadir pula di panggung Jakarta. Sebelumnya Jakarta sempat dijuluki The Big Village atau kampung besar.

*Alwi Sihab Wartawan Senior Republika
dikutip dari Republika : Heboh Penutupan Alexis dan Sejarah PSK di Jakarta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel