Usah Kau Usik Keindahaannya








Obrolan di group WA wali santri. Setiap ada postingan foto dari ustadz, selalu yang komen antusias adalah para emak. Apa kabar si bapak? Cuek banget, seolah gak butuh gambar anaknya nun jauh di sana. 

Bertanya ke murobi akan kabar si anak. Dikirimlah jawaban standar, bahwa ananda Alhamdulillah baik-baik saja. Namun perasaan emak berteriak. Mana bukti visualnya?
Jangan-jangan hoax..
Poto mana poto? 😂
Laki-laki pun bebas beristri hingga berbilang empat. Dibiarkan membuat hati perempuan jadi sekarat. Laki-laki boleh jadi pemimpin negara, eh perempuan dinyatakan tak layak. Tanya kenapa. Aurat perempuan dibatasi, itu kan otoritas gue. Otak loe yang porno, pakaian yang didemo. Warisan buat perempuan, hanya diberi separo, memangnya kita bodo?"
Begono katanyo..
Adakalanya Allah membedakan peran keduanya terkait perbedaan fisik dan psikologis. Masing-masing memiliki karakter kelaki-lakian dan keperempuanan. Sungguh indah pengaturan Islam yang mengakomodir keistimewaan dan perbedaan keduanya.
Adil khan😘


Begitulah si emak. Kelebihannya dalam kuatnya emosi yg dimiliki menjadikannya sebagai pribadi yang lembut, romantis, penyayang, penyabar, lebih sensi dan penuh cinta. Karena kelebihan inilah seorang emak dipercaya untuk mengandung, melahirkan, merawat dan menyusui sang buah hati.

Seorang bapak, tak begitu. Melintas kabar ananda baik-baik saja, cukuplah memuaskan aqalnya. Bahagia karena tak terjadi apa-apa. Tak ada waktu menjenguk pun tak mengapa. Beda si bapak beda si emak. Beda fisik, juga beda biologis dan psikologis. Singkatnya, ada perbedaan fithrah diantara keduanya. Tak bisa disetarakan dalam semua lini. Harus beda peran donk yang pasti. 

Layak si bapak jadi pemimpin. Dan emaklah sebagai pendamping. Pemimpin harus hebat karena menjalankan mandat Ilahiat. Keputusannya harus bijak dan tepat. Pendamping adalah mitra terbaik nan menawan. Penuh hikmah dan kelembutan. Selalu memberi spirit kekuatan pada sang komandan. Harus minta pertimbangan kepada sang pemimpin jika mau berbuat sesuatu yang genting. Wajib ijin bila mau keluar rumah dan puasa sunah.

Ada yang tak setuju?
Memandang bahwa semuanya tak perlu. Laki-laki dan perempuan adalah sekufu. Mengapa pula istri wajib ijin kepada suami. Sedangkan suami tidak. Jikalau istri harus berjibaku dengan urusan dapur dan anak, mengapa sang suami dibiarkan cari enak?
Mereka adalah pengusung ide feminisme yang berbicara dalam kerangka pikir sekularisme liberal. Memisahkan agama dari kehidupan serta menjamin kebebasan manusia tanpa batas. Logika mereka sudah sesat bahkan dari sisi asasnya. Mereka selalu mempersoalkan masalah dengan menonjolkan sensitivitas feminisme. Fokus pada isu gender dan derivatnya, padahal sejatinya perbedaan jenis kelamin bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Mereka menganggap bahwa masalah yang kerap dialami perempuan tersebab syariat Islam yang dituduh memarjinalkan perempuan. Misalnya masalah waris, hijab, poligami, kepemimpin dll.
Sesungguhnya perbedaan peran laki-laki dan perempuan adalah sesuai dengan kodratnya. Ada kalanya Islam memberikan kewajiban yang sama kepada keduanya, supaya ta'at kepadaNya. Karena mereka adalah sama- sama seorang hamba. Yang mempunyai kedudukan yang sama dihadapanNya. 
Usah lagi kau usik keindahan dan keadilannya

Sumber : fb Ita Mumtadz Rositah
Previous Post
Next Post
Related Posts